Sebuah surat panjang tentang rindu yang tak pernah selesai, tentang lelahnya menjadi “baik-baik saja” di depan semua orang, tentang belajar bertahan sendirian menghadapi kerasnya dunia. Menjadi pengingat, bahwa kehilangan tidak selalu bisa disembuhkan, tapi selalu bisa dijalani dengan perlahan.
Bu … aku yang tumbuh bersama dengan doa-doamu, kini lemah dan tersesat tanpa kehadiranmu.
Keunggulan Buku:
• Buku kedua dari penulis buku “Untukmu, Anak Bungsu: Si Ahli Memendam Luka”
• Kumpulan tulisan pendek dan quote yang ditulis dengan gaya bahasa sederhana, mengena, dan mudah dipahami.
• Isi buku menggambarkan tentang rasa sayang seorang anak kepada ibunya, tentang harapannya, tentang permintaan maafnya karena tidak sekuat yang diharapkan sang ibu, dan tentang ketakutannya saat harus kehilangan sang malaikat tanpa sayap.
Deskripsi Buku:
Rasanya, semua orang akan bersepakat kalau peran dan kehadiran seorang ibu begitu penting dalam hidup kita. Ibu bukan hanya yang mengandung dan melahirkan kita, ia juga membesarkan, merawat, menjaga, bahkan membimbing dan memberikan dukungan kepada anak-anaknya. Setiap sakit, setiap ada masalah atau mengalami kesusahan, kita pasti akan mencari ibu. Setiap kita merasa ketakutan, yang kita panggil adalah ibu. Setiap ada kabar gembira, kita juga ingin langsung memberi tahu ibu. Ketika kita mau ujian atau melamar kerja, kita pasti akan selalu meminta doa dan restu ibu. Tapi, ada juga saat-saat di mana kita merasa malu untuk menunjukkan rasa sakit dan luka kepada ibu. Takut melihat tatapan sedih dan kekecewaan di wajah ibu ketika tahu kalau anak yang dibanggakannya ini ternyata tidak sekuat itu untuk menghadapi dunia. Buku ini hadir untuk mewakili perasaan anak-anak yang menyayangi ibunya dan tidak mau mengecewakannya, sekaligus ratapan ketakutan ketika harus kehilangan ibu, sang malaikat tanpa sayap.