Buku ini mengajak pembaca untuk menelusuri dua wajah dari kemajuan teknologi AI—sebagai sumber harapan sekaligus potensi ancaman bagi peradaban manusia. Ditulis dengan gaya reflektif dan ilmiah, buku ini menempatkan AI bukan sekadar inovasi teknis, tetapi sebagai fenomena moral, sosial, dan filosofis yang menuntut kebijaksanaan baru.
Bagian awal buku membentangkan sejarah panjang kecerdasan buatan, dari mitos kuno tentang automaton hingga revolusi digital modern yang melahirkan GPT-5. Pembaca dibimbing memahami bagaimana AI berkembang melalui tokoh-tokoh penting seperti Alan Turing, John McCarthy, hingga era deep learning dan model bahasa besar yang kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Memasuki bagian kedua, penulis mengulas sisi terang AI—kontribusinya dalam bidang kesehatan, pendidikan, pemerintahan, dan ekonomi global. Studi kasus dari berbagai negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Cina, dan Indonesia menunjukkan bahwa AI telah menjadi pendorong utama kemajuan industri dan inovasi publik.
Namun, buku ini tidak berhenti pada euforia. Di bagian ketiga, pembahasan beralih pada sisi gelap AI: bias algoritma, ancaman terhadap privasi, pengangguran akibat otomasi, hingga bahaya deepfake dan risiko eksistensial dari sistem yang kian otonom. Di sinilah muncul refleksi etis tentang bagaimana manusia dapat tetap menjadi pusat dari teknologi yang diciptakannya.
Bagian keempat dan kelima menjadi inti pesan buku ini—menawarkan kerangka etika dan kode etik AI yang berpijak pada martabat manusia serta tanggung jawab sosial. Penulis menegaskan bahwa tata kelola AI berbasis etika bukan pilihan, tetapi keharusan agar teknologi tetap berpihak pada kesejahteraan manusia dan kelestarian bumi.
Dengan pendekatan multidisipliner yang memadukan filsafat, teknologi, dan kebijakan publik, buku ini menjadi bacaan penting bagi akademisi, pembuat kebijakan, pelaku industri digital, dan siapa pun yang ingin memahami arah masa depan kecerdasan buatan.
Tahun Terbit : Cetakan Pertama, 2025